LANGKAWI, Keindahan dalam gugusan pulau

Langkawi, masih terasa asing ketika mendengar nama ini. Langkawi sebenarnya merupakan suatu gugusan pulau di bagian Kedah, Malaysia, dimana Pulau Langkawi merupakan pulau yang terbesar di kepulauan ini. Di seberang Pulau Langkawi ialah Pulau Sumatra di Indonesia. Sejarahnya pulau ini tercipta 500 juta tahun, yaitu pada zaman Kambria. Pada zaman itu, sebuah benua besar bernama Gondwana yang terletak di Kutub Selatan berpecah menjadi cebisan tanah yang kecil yang kini dapat dijumpai di 4 tempat di bumi, yaitu Afrika, Australia, India, dan Langkawi.

Pulau Langkawi memiliki banyak sekali gugusan pulau – pulau yang indah. Gugusan pulau yang paling dikenal adalah Pulau Dayang Bunting, Pulau Singa Besar, Pulau timun, Pulau Tuba dan Pulau Langun. Untuk sampai ke Pulau Langkawi ada beberapa alternative bisa dari kuala lumpur melalui jalur darat sekitar 5 jam ke Kuala Perlis lalu dilanjutkan dengan kapal sekitar 1 jam menuju Pulau Langkawi. Selain jalur darat, dari Kuala Lumpur bisa juga menggunakan pesawat langsung ke Pulau Langkawi. Tapi kali ini saya ingin bertualang dengan mengambil jalur dari Penang. Dari Jakarta singgah dan bermalam di Penang terlebih dahulu untuk mempersiapkan segala sesuatunya menuju Langkawi. Dari Airport Penang langsung menuju homestay didaerah George Town, Komtar. Untuk menuju Komtar harus naik bus 405E dari Airport dengan tarifnya RM2,7, saran saya sediakan uang pas untuk naik bus di Penang karena apabila duit kalian lebih tidak dapat dikembalikan. Dengan kata lain tidak ada kembalian.

Selama perjalanan di bus pandangan saya tak lepas kanan kiri kanan kiri, bangunannya seperti kota tua dan dekat dengan pantai. Sampainya di Komtar dengan bermodalkan peta, saya dan kedua teman berjalan mencari homestay yang sebelumnya sudah kami booking melalui via telepon. Hutton Lodge itulah nama homestay kami dan ternyata di daerah ini banyak sekali homestay yang diperuntukkan bagi turis-turis backpacker. Kamar yang kami sewa adalah dormitory dengan tarif RM45 kamar ini tersedia 4 tempat tidur dimana para turis bisa bergabung menjadi satu walaupun tak saling kenal, wah untungnya satu kamar itu hanya ada saya dan kedua teman saya saja :p

Setelah menaruh barang di homestay saya langsung menuju jetty untuk membeli tiket penyebrangan ke Langkawi esok hari. Di jetty ini banyak sekali travel yang menawarkan berbagai macam wisata dan saya pun singgah ke Tourism Malaysia, disana saya mendapatkan banyak sekali informasi mengenai Penang dan Langkawi, saking bagusnya pelayanan dari Tourism Malaysia ini mereka membantu telepon ke penginapan-penginapan di Langkawi untuk kami dan semua bantuan itu gratis. Menurut saya Pariwisata Indonesia perlu mencontoh hal ini agar para turis yang datang ke Indonesia mendapatkan layanan yang memuaskan. Tak salah kan belajar dari kelebihan Negara lain.

Keesok paginya saya sudah berada di Jetty lagi untuk menyeberang ke Langkawi dengan speedboat yang memakan waktu 3 jam. Tarif speedboat ini RM80, apabila kita membeli tiket sekaligus pulang pergi tarifnya RM115. Dalam satu jadwal menuju ke Langkawi hanya 2 kali yaitu pagi hari pukul 9.15 dan 16.00 waktu bagian Penang (lebih cepat 1 jam dari waktu jakarta).

Sepanjang perjalanan yang dapat kita lihat hanya lautan lepas. Sebelum sampai ke Langkawi, speedboat ini berhenti terlebih dahulu di Pulau Payar. Banyak juga para turis yang datang ke Pulau Payar ini yang terkenal dengan Marine Park dan pantainya dengan pasir berlapis emas, wow! Pasti indah, dan sesampai di dermaga saya melihat pantainya yang benar-benar indah, airnya jernih sehingga dari kejauhan diatasnya saya bisa melihat banyak sekali ikan di pantai itu.

Dari Pulau Payar masih membutuhkan 1 jam untuk sampai ke Pulau Langkawi dan setibanya saya di Langkawi saya sangat merasakan kehangat orang – orang disini. Di Pulau Langkawi tidak ada transportasi umum jadi bagi turis hanya dapat menyewa mobil atau motor. Saya pun menyewa mobil dengan harga RM80 per hari. Selagi menyewa mobil saya pun ditawari berbagai macam paket wisata di Langkawi, mulai dari paket hopping island, paket mangrove, hingga paket marine park. Akhirnya saya memutuskan memilih paket hopping island karena selain harga terjangkau juga cukup untuk bisa berpetualang.

Setelah selesai dengan urusan persiapan untuk esok hari akhirnya saya pun singgah ke Citin Hotel yang terletak di Kuah, kota besar di Langkawi. Walaupun di kota besar, Hotel Citin juga termasuk pilihan hotel yang tidak terlalu mahal, nyaman dan strategis, tarifnya RM90 dengan twin bed. Saya menikmati kota Kuah, pusat kota yang tidak bising dan tertata rapih.

Sore pun tiba, saya sudah mengelilingi kota Kuah hingga sampai di pantai cenang, sayangnya pantai pasir putih ini seperti pantai kuta bali, ramai oleh para turis. Saya pun tak berlama – lama disana, dan segera menuju Taman Awan Teluk Yu Langkawi. Sebuah pantai yang terhampar sepanjang jalan dengan pasir hitamnya ini memiliki pasir yang sangat kasar dan terdapat banyak sekali bebatuan yang besar – besar.

Yang tak banyak diketahui oleh backpacker adalah menikmati sunset di Tanjung Rhu, disini sunset itu sekitar pukul 19.30. Dari pantai Yu Langkawi ke Tanjung Rhu cukup dekat dan jalan menuju kesana sepi sekali, disebelah kiri kita bisa melihat resort bintang 5 dan disebelah kanannya ada hutan mangrove. Sampailah saya di Tanjung Rhu dan saya sangat takjub. Bagaimana tidak, pantai dengan pasir putih yang sangat halus ini kita bisa berjalan hingga gugusan karang besar ditengah laut, karena pantai ini pasirnya membelah hingga ke tengah laut dan bila sunset pasir-pasir ini akan tertutup air laut dengan perlahan lahan,, cantik!!

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya diatas bahwa setibanya di Langkawi saya memutuskan untuk mengambil paket Hopping Island yang terdiri dari Pulau Dayang Bunting, Pulau Singa Besar dan Pulau Beras Basah. Menuju kesana kita harus menelusuri laut dengan perahu motor kecil yang cukup untuk 15 orang, harga untuk paket Hopping Island ini adalah RM30. Sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pulau – pulau karang yang indahhhh sekali,,hmmm saya sangat menikmatinya.

Pulau pertama yang kami singgahi adalah Pulau dayang Bunting, dari samping pulau kami sempat berhenti sejenak untuk melihat bentuk pulau dari samping dimana terlihat kepala, perut dan kaki seperti seorang raksasa yang sedang tidur seperti legenda pulau itu. Sesampainya di dermaga Pulau Dayang Bunting kami harus jalan di jembatan dimana banyak sekali monyet – monyet liar disekitarnya, awasss jangan sampai ada barang yang menarik perhatian monyet-monyet itu, mereka akan mengejarmu!. Wisata di Pulau Dayang Bunting kita bisa melihat Tasik Dayang Bunting (Danau). Untuk menuju Tasik kita akan berjalan kurang lebih 10 menit dengan jalan bertangga. Di Tasik Dayang Bunting ini penuh cerita dongeng bahkan hingga saat ini masih dipercayai magisnya yaitu bagi perempuan yang meminum air danau ini maka kesuburannya akan meningkat. Disana kita dapat menikmati keliling danau dengan perahu yang dikayuh dengan kaki dan dapat juga kita merendam kaki dan ikan-ikan akan menghampiri kita, tapi kok ikannya ikan lele yah? Takut dipatil :p

Pulau selanjutnya yang saya singgahi adalah Pulau Singa Besar, dimana pulau ini tak berpenghuni dan hanya burung elang yang banyak sekali sebagai penghuninya. Saya baru pertama kali melihat elang yang banyak dan besar. Dari Pulau Singa Besar, pulau yang terakhir akan disinggahi adalah Pulau Beras Basah. Pantainya bersih dan hanya dapat bermain pasir dan menikmati pemandangan pantai saja, tetapi ada juga loh yang snorkeling dan main banana boat. Saran dari saya kalau mau snorkeling ambil spot lain karena visibility disini kurang.

Namun dalam liburan saya kali ini tak hanya mengunjungi pantai, saya pun ingin mengetahui pelestarian di Langkawi ini dan saya pun singgah di Taman Buaya Langkawi, rasanya saya ingin menunggu di mobil saja karena saya harus melewati jembatan kayu yang cukup kokoh dimana dibawah jembatan ini adalah kolam buaya, bukan hanya jumlahnya yang banyak tetapi buaya disini memiliki ukuran yang besar-besar sekali. Baru kali ini saya melihat buaya yang sangat besar seperti di film. Eh ada yang menarik perhatian saya di tempat ini, ada pajangan ikan dan buaya seperti lambang kota Surabaya, untung hanya pajangan mereka saja kalau diperjualkan saya akan protes.

Sekitar 500 meter dari Taman Buaya Langkawi kita dapat menemukan Air terjun Temurun di Hutan Lipur. Dibawah air terjun ini ada seperti kolam yang bisa kita buat berendam dan rasanya segarrr sekali sambil memandang keatas dengan burung burung Elang yang berterbangan.

Liburan di Pulau Langkawi ini akhirnya saya tutup dengan Sky Bridge, tak lengkap kalau tidak menginjakkan kaki di jembatan dengan ketinggian 700 meter dari permukaan laut. Untuk sampai di Sky Bridge ini kita harus naik Cable Car dengan 2 stasiun pemberhentian. Saya Cuma bisa takjub ketika naik Cable Car ini, karena saya bisa melihat Pulau Langkawi beserta gugusannya dari atas.

Nah, tak lengkap rasanya liburan bila tidak membawa oleh-oleh, di daerah pantai Cenang yang mirip Pantai Kuta saya bilang itu terdapat banyak sekali toko cinderamata. Sayangnya yang membuat saya kesal dan sedih adalah cinderamata di Pulau Langkawi ini adalah kebanyakan cinderamata khas Indonesia yang saya temui, seperti miniature angklung, gong, barong, patung batik, bahkan kain batik itu sendiri sebagai cinderamata. Positifnya yang saya ambil dari hal ini adalah ini sebagai pacuan kita untuk mempopulerkan Indonesia dengan keberagamannya sehingga kekayaan budaya kita tetap terjaga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s