Kepulauan Derawan : Four diamonds in East Borneo

Derawan

Banyak mungkin yang belum mengetahui Pulau Derawan, pulau kecil yang menjadi bagian dari Kalimantan Timur ini mulai diperbincangkan dengan ragam keindahan alamnya, hanya saja sebelum kebanyakan masyarakat lokal berlibur kesana, Derawan sudah sering dikunjungi oleh wisatawan asing dan yang paling banyak berasal dari negara tetangga. Pulau favorit yang menjadi wajib dikunjungi ada Pulau Derawan itu sendiri, Pulau Maratua, Pulau Kakaban dan Pulau Sangalaki. Selain keempat pulau itu, ada pulau yang tak kalah indah yaitu Pulau Nabucco.

Pada saat pertama saya menginjakkan kaki di pulau ini, takjub adalah kata yang dapat saya ungkapkan. Mulai dari pantainya yang indah dengan pasir halusnya, pantainya bergradasi hijau kebiruan dan Derawan juga banyak sekali penyu dengan jenis penyu hijau dan penyu sisik. Dimana mana kita dapat melihat penyu, kebetulan pada saat saya berlibur kesana, saya menginap dikamar yang letaknya diatas pantai, ketika duduk santai diteras maka terlihatlah penyu-penyu lucu itu kesana kemari dengan jumlah yang cukup banyak dan warna warni fish schooling menambah keindahan pantai Derawan ini dikala senja.
scholling fish
Untuk sampai kesana saya melalui jalur Tarakan, yang dimana untuk sampai di Tarakan saya harus ke Balikpapan dahulu dari Jakarta. Sesampai di Pelabuhan Tarakan saya naik speedboat selama 3 jam dengan pemandangan lautan lepas.

Sesampainya di Derawan saya langsung ingin menceburkan diri, tunggu! tahan sejenak hingga sunset tiba. Sambil menunggu sunset, saya berkeliling mengitari Derawan yang ternyata tidak terlalu besar, cukup sekitar 45 menit untuk berkeliling jalan kaki. Sunset pun tiba disaat saya sedang duduk didermaga menikmati gradasi pantai dan gradasi langitnya yang sangat cantik, Sunsetnya membuat ku tersenyum hangat.. 🙂

Pulau Maratua

maratuaPulau Maratua merupakan bagian dari Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dari Pulau Derawan, saya menggunakan speedboat selama 1 jam untuk tiba di pulau ini. Pulau Maratua sungguh kaya dengan biota bawah lautnya.

Katanya sih, Pangeran William, putra Pangeran Charles dari Kerajaan Inggris, pernah mengunjungi pulau ini dan menggagumi keindahan bawah lautnya. Sekali menyelam di Pulau Maratua, kalian akan ketagihan. Di bawah lautnya, saya bertemu dengan ratusan jenis ikan laut dan terumbu karang yang menggoda. Tidak hanya itu, saya juga dapat bertemu barakuda dan penyu hijau. Ditambah dengan air laut yang sangat jernih hingga saya lupa daratan saat menyelam di Pulau Maratua.

maratua 1
Pantainya pun akan menjadi tempat bersantai yang spesial. Lautan yang biru dan sunset yang menggoda, akan menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan. Pulau Maratua memiliki kekayaan alam yang memesona. Pulau ini pun masih sangat bersih dan alami. Dengan 21 titik menyelam, menjadikan Pulau maratua sebagai keindahan karya Tuhan di Kepulauan Derawan.

Pulau Kakaban

Pulau Kakaban merupakan pulau atol yang memiliki laguna berair payau di dalamnya, Kakaban tergolong langka. Sebab, di dunia ini diketahui hanya ada dua yang memiliki kondisi serupa, yaitu Kakaban dan Pulau Palau, di Mikronesia, berjarak 1.000 kilometer dari Filipina. Bagi Anda penyuka wisata bahari, kawasan seluas 774,2 hektar ini memiliki populasi dan keragaman ubur-ubur terbanyak di dunia, yaitu empat spesies unik ubur-ubur yang tidak menyengat.
jelly fish
Pulau ini dikelilingi tebing tinggi, sebelah barat luar tebing terhampar dataran rendah selebar 50 meter yang terdiri dari batu karang. Di kaki tebing terdapat tangga kayu yang menanjak kemudian menurun berjarak 120 meter, menuntun Anda ke tepi danau di balik bukit. Tangga ini terbuat dari kayu meranti dan di kiri kanan tangga tampak rerimbunan pohon bakau diselingi pohon tropis lain yang menjulang tinggi membentuk hutan mangrove, seperti tanjang (Bruguiera), apiapi (Avicennia), dan pidada (Sonneratia).

Pulau Kakaban berbentuk angka “9”, dimana di sebelah utara terdapat atol atau batu karang berbentuk cincin dan di dalamnya terbentuk laguna yang dinamai penduduk setempat Danau Kakaban.

jelly fish 2

Danau Kakaban berisi air payau yang dihuni beragam biota laut yang mengalami evolusi selama terkurung di dalamnya, hingga memiliki sifat dan tampilan fisik yang berbeda dengan spesies sejenisnya yang berada di laut. Salah satu di antaranya ubur-ubur berbadan bening layaknya piring kaca (Aurelia aurita) dan beberapa jenis lainnya yang tampak jauh lebih mungil seukuran ujung jari telunjuk (Tripedalia cystophora).

Sedangkan yang sekepalan tangan, ibarat bola lampu pijar berwarna biru kecoklatan (Martigias papua) jumlahnya lebih dominan di antara lainnya. Bersama ketiga jenis ubur itu, terdapat juga spesies ubur-ubur Cassiopeia ornata yang menjadi ciri khas Pulau Kakaban.
jelly fish 3
Yang membedakan spesies ini dengan ubur-ubur di laut lepas adalah hilangnya kemampuan menyengat. Sedangkan kebiasaan unik Cassiopeia adalah berenang secara terbalik. Dengan menghadapkan “kaki” atau tentakel ke atas.

Dunia penyelaman telah mengenal beberapa titik penyelaman disekitar Pulau Kakaban, yaitu Barracuda Point, The Drift, Cabbage Patch, The Wall, Blue Light Cave, The Plateau, Rainbow Run, Diver’s Delight dan The North Face. Variasi dari berbagai tipe lokasi penyelaman ini sangat menarik bagi para penyelam yang berpengalaman. Medan yang sulit, berbahaya dan tidak adanya tempat berlabuh di Pulau Kakaban menjadikan lokasi selam ini penuh tantangan.

Pulau Sangalaki

Pulau Sangalaki merupakan salah satu pulau yang terletak di Kalimantan Timur. Di pulau tersebut terdapat penangkaran penyu alami dan pari jenis manta yang dapat kita jumpai di laut sekitar pulau.

sea turtle

Biasanya kapal motor berhenti di dermaga,tapi ini justru berhenti di tengah-tengah laut dangkal, kapal motor tidak dapat bersandar di dermaga karena memang tidak ada dermaga untuk kapal di Pulau Sangalaki ini. Begitu alaminya pesona pulau ini. Sejauh mata memandang, perairan jernih tampak terhampar di depan mata. Sambil mengangkat tas dan barang bawaan kami di atas kepala, kami berjalan menerobos air laut setinggi pinggang kami. Begitu menantang dan seru rasanya ketika kita semua berjalan sekitar 200 meter di tengah perairan dangkal yang begitu jernih.

PenyuSebagian penyu-penyu yang telah keluar dipindahkan ke ember kecil yang sudah siap untuk kami lepaskan ke hamparan pasir luas. Dengan begitu semangatnya kami mulai memegang dan berfoto-foto bersama para bayi penyu yang mengagumkan tersebut. Di tengah isu pemusnahan penyu secara ilegal dan perampasan telur penyu yang dijual bebas, terasa begitu bahagia ketika kami masing-masing memegang satu penyu kecil tersebut dan melepaskan di pinggir pantai. Penyu-penyu cilik tersebut secara serempak langsung merayap pertama kalinya menuju laut bebas. Lambat laun satu per satu sudah tiba di sisi pinggir pantai dan memasuki perairan terbuka.
Nah, sekarang tidak ada alasan untuk tidak ingin menjelajah Indonesia kan? Yuk, ke Derawan.
Iklan

Savana di Kepulauan Komodo

komodo
KOMODO, mungkin ketika mendengar nama hewan ini terdengar mengerikan untuk sebagian orang atau malah ada yang belum tahu. Komodo merupakan hewan yang memiliki banyak kelebihan yang mungkin banyak kita belum mengetahui seperti kelebihannya dapat berlari 18 km/jam dan bisa melihat dalam jarak 300 meter, bukan hanya itu indra penciumannya juga sangat tajam, dari kejauhan 5km dia bisa mencium mangsanya. Karena keunikannya pula predator ini dipilih oleh UNESCO sebagai salah satu World Heritage Site. Itu pun yang menjadi alasan mengapa Komodo masuk kedalam urutan tempat wisata yang wajib saya kunjungi,, :pKomodo secara alami hanya ditemui di Indonesia, di pulau Komodo dan Rinca, Nusa Tenggara Timur. Taman Nasional Komodo sendiri terdiri dari tiga pulau besar yaitu Pulau Komodo (Loh Liang), Pulau Rinca (Loh Buaya) dan Pulau Padar serta beberapa pulau kecil lainnya.

Pulau Komodo

Sebenarnya daya tarik Taman Nasional Komodo tidak semata-mata oleh kehadiran Komodo belaka. Taman Nasional Komodo ini memiliki panorama savana dan pemandangan bawah laut merupakan daya tarik pendukung yang potensial. Wisata bahari misalnya, memancing, snorkeling, diving, cano, bersampan. Sedangkan di daratan, potensi wisata alam yang bisa dilakukan adalah pengamatan satwa, hiking, dan camping. Mengunjungi Taman Nasional Komodo dan menikmati pemandangan alam yang sangat menawan merupakan pengalaman yang tidak terlupakan oleh saya. Disana kita dapat menjumpai flora dan fauna yang ada di Pulau Komodo ini. Pada saat menelusuri jalan di pulau ini,saya perhatikan disini banyak sekali pohon asam, pohon lontar dan bunga anggrek.

Perjalanan saya kali ini akan dimulai pada Pulau Komodo atau sering disebut dengan Loh Liang oleh masyarakat sekitar. Begitu sampai di Pulau Komodo saya dan teman-teman Indonesia Travller sudah disambut dengan kehadiran komodo di sisi dermaga Pulau Komodo. Tidak perlu takut, karena para ranger (petugas taman nasional) pun bersiap menemani kita yang baru singgah, mulai dari pengenalan Pulau Komodo sendiri hingga pengarahan sebelum menjelajah Pulau Komodo ini. Untuk menjelajah pulau kita dapat melakukan trekking, ada tiga jenis trekking yang tersedia, trek pendek memakan waktu setengah jam dengan jarak 1 km, untuk trek medium kurang lebih 1,5 jam dengan jarak 3 km dan trek yang panjang dengan waktu tempuh 2,5 jam dengan jarak 4,5 km. Tujuan dari trekking ini adalah agar kita dapat melihat habitat komodo itu sendiri.

Sepanjang perjalanan menjelajah pulau ini kita sesekali akan bertemu dengan komodo, terlihat mereka tertidur tetapi jangan salah begitulah cara mereka mengintai mangsanya. Selama perjalanan ranger pun berbagi cerita dan informasi seputar komodo dan pulau komodo. Dulunya komodo di pulau ini diberi makan (feeding) oleh pemerintah, namun dirasa cara ini kurang baik bagi komodo itu sendiri karena komodonya menjadi malas dan hilang insting berburunya. Akhirnya komodo ini dibiarkan mencari makanan dengan berburu di alam bebas.

Pulau Rinca

Seterincalah Pulau Komodo saya pun ingin singgah ke Pulau Rinca yang masih masih dalam Kepulauan Komodo. Nah, kalau Pulau Komodo disebut dengan Loh Liang maka Pulau Rinca disebut dengan Loh Buaya. Populasi komodo di Pulau ini sekitar 1.300 ekor komodo, populasi disini jauh lebih banyak daripada populasi di Pulau Komodo sendiri. Predator ini sangat menyukai hidup di padang rumput kering terbuka, savana dan hutan tropis pada ketinggian rendah.

Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup.

Insting komodo untuk berburu mangsa di pulau ini jauh lebih kuat untuk itu mengapa komodo di pulau rinca jauh lebih liar dibandingkan komodo di pulau komodo.

Oh iya, sebagai informasi bagi para wanita yang ingin berkunjung kesini dapat dipastikan dulu kalau kita tidak dalam sedang haid. Karena kalau di Rinca ini, bagi wanita yang sedang haid benar-benar tidak boleh mengikuti trekking dan harus melapor ke ranger untuk menunggu di pos penjagaan. Ini berbeda dengan di Pulau Komodo dimana wanita yang sedang haid masih dapat mengikuti trekking hal ini karena Komodo di Rinca penciumannya jauh lebih tajam dan lebih liar.

Nah, ada yang seru nih disini untuk trekking agak berbeda di pulau ini dengan trek di pulau komodo, di Rinca kita akan menelusuri ilalang, lumpur dan jalan yang sedikit menanjak. Tetapi semua itu terbayarkan setelah saya sampai ke puncak savana di Rinca,sejauh mata memandang hanyalah hamparan hijau pemandangan savana yang sangat indah dan birunya lautan.

Ayooo,, selain kalian harus Vote Komodo sebagai 7 Wonder of Nature, kalian harus jelajahi juga yah 🙂