Makassar : Rammang-Rammang termasuk World Heritage Site, loh!

Ramang-Ramang, pada saat saya berada di Makassar penasaran dengan daearah apa ini ya? Punya Karst seperti apa ya? Sehabis dari Bantimurung langsung lah saya menuju kesana, berbekal bertanya kepada masyarakat sekitar akhirnya tibalah saya di Maros. Menelusuri jalan yang cukup kecil untuk dilalui  dua mobil berlawan arah, tetapi mata saya pun dengan seketika terbelalak melihat kanan kiri hamparan sawah hijau dengan bebatuan hitam yang menjulang.

maros 2Wow, itu yang namanya Karst ya? Saya bertanya kepada teman saya yang asli orang Makassar, dia pun belum pernah ke Ramang-Ramang katanya.  Arti kata Rammang-Rammang sendiri berasal dari bahasa daerah setempat yakni Bahasa Makassar, di mana kata rammang adalah arti dari kata awan, sehingga dapat disimpulkan bahwa arti kata rammang-rammang adalah awan-awan.

Rammang-Rammang adalah sebuah desa di Maros dikenal sebagai desa Karst. Pegunungan Karst Rammang-Rammang adalah terbesar ke-2 di dunia, bahkan termasuk dalam World Heritage Site. Akses menuju kesana kita bisa naik angkot/sewa mobil dengan jurusan pangkep kemudian turun di pertigaan arah jalan masuk semen bosowa, dari pertigaan sekitar 200 meter kita akan menemukan jembatan. Samping kiri jembatan ada dermaga dari sana kita akan naik perahu menyusuri sungai pute. Pemandangan disana sangat menakjubkan dengan pegunungan karst dan  melewati sungai dalam goa. Lama perjalanan normal dari Makassar sekitar 1 jam.

Maros 1

Objek wisata yang bisa ditemukan di daerah ini adalah wisata Sungai Pute dan Kampung Berua. Berangkat dari dermaga Rammang-Rammang dengan Katinting (kapal motor) maka mata kita akan disuguhkan oleh sebuah pemandangan indah lainnya yang di mana di sepanjang pinggiran sungai  tumbuh  hutan  pohon nipah yang dihiasi oleh gugusan Taman Hutan Batu Kapur Rammang-Rammang dan gugusan pegunungan kapur yang berdiri tegak di pinggir sungai, pada beberapa lokasi kita akan menemukan bebatuan yang berada di tengah sungai yang akan dilintasi oleh perahu.

Sungai Pute

Tak jarang pula kita bisa melihat burung belibis dan burung endemik lainnya yang sedang asyik beristirahat di atas bebatuan kapur di pinggir sungai. Sedikit masuk ke dalam terletak semacam gua kapur di jalur aliran sungai, lalu kemudian perahu akan melintas ke dalam gua tersebut sampai menembus ujung gua. Semakin jauh ke dalam aliran sungai akan semakin menyempit dan berkelok-kelok, kemudian kita akan menemukan dua bukit kapur yang mengapit sungai ini, yang mana perahu akan melintas di tengah kedua bukit kapur yang mengapit sungai tadi. Tepat setelah itu perahu akan bersandar di dermaga kecil yang bernama dermaga Kampung Berua.

Setelah perahu bersandar, saya pun tak sabar untuk menikmati pemandangan yang sangat indah di Kampung Berua. Kampung ini terletak di tengah-tengah gugusan pegunungan kapur beserta hutan tropisnya, yang dihiasi oleh hamparan sawah dan tambak ikan milik penduduk setempat. Kampung ini sendiri hanya terdiri dari 15 rumah saja dan hanya bisa diakses melalui jalur sungai dengan menumpangi perahu sampan ataupun perahu katinting.

kampung beruaBerada di Kampung Berua ini saya semakin takjub dengan keindahan  yang Indonesia memiliki, hamparan tebing yang menakjubkan benar-benar membuat mata saya terbelalak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s