Kuliner Makassar : Memanjakan lidah tiada henti

Galeri

Galeri ini berisi 3 foto.

Rasanya kalau ke Makassar gak kulineran itu belum afdol namanya. Nah, jalan–jalan kali ini Sabuya buatkan khusus sehari dengan penuh kuliner, siap–siap kolesterol yaaa. Makassar terkenal dengan Coto, isinya mulai dari hati, usus, paru, daging, otak, dll. Berikut kuliner hasil … Baca lebih lanjut

Kepulauan Derawan : Four diamonds in East Borneo

Derawan

Banyak mungkin yang belum mengetahui Pulau Derawan, pulau kecil yang menjadi bagian dari Kalimantan Timur ini mulai diperbincangkan dengan ragam keindahan alamnya, hanya saja sebelum kebanyakan masyarakat lokal berlibur kesana, Derawan sudah sering dikunjungi oleh wisatawan asing dan yang paling banyak berasal dari negara tetangga. Pulau favorit yang menjadi wajib dikunjungi ada Pulau Derawan itu sendiri, Pulau Maratua, Pulau Kakaban dan Pulau Sangalaki. Selain keempat pulau itu, ada pulau yang tak kalah indah yaitu Pulau Nabucco.

Pada saat pertama saya menginjakkan kaki di pulau ini, takjub adalah kata yang dapat saya ungkapkan. Mulai dari pantainya yang indah dengan pasir halusnya, pantainya bergradasi hijau kebiruan dan Derawan juga banyak sekali penyu dengan jenis penyu hijau dan penyu sisik. Dimana mana kita dapat melihat penyu, kebetulan pada saat saya berlibur kesana, saya menginap dikamar yang letaknya diatas pantai, ketika duduk santai diteras maka terlihatlah penyu-penyu lucu itu kesana kemari dengan jumlah yang cukup banyak dan warna warni fish schooling menambah keindahan pantai Derawan ini dikala senja.
scholling fish
Untuk sampai kesana saya melalui jalur Tarakan, yang dimana untuk sampai di Tarakan saya harus ke Balikpapan dahulu dari Jakarta. Sesampai di Pelabuhan Tarakan saya naik speedboat selama 3 jam dengan pemandangan lautan lepas.

Sesampainya di Derawan saya langsung ingin menceburkan diri, tunggu! tahan sejenak hingga sunset tiba. Sambil menunggu sunset, saya berkeliling mengitari Derawan yang ternyata tidak terlalu besar, cukup sekitar 45 menit untuk berkeliling jalan kaki. Sunset pun tiba disaat saya sedang duduk didermaga menikmati gradasi pantai dan gradasi langitnya yang sangat cantik, Sunsetnya membuat ku tersenyum hangat.. 🙂

Pulau Maratua

maratuaPulau Maratua merupakan bagian dari Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dari Pulau Derawan, saya menggunakan speedboat selama 1 jam untuk tiba di pulau ini. Pulau Maratua sungguh kaya dengan biota bawah lautnya.

Katanya sih, Pangeran William, putra Pangeran Charles dari Kerajaan Inggris, pernah mengunjungi pulau ini dan menggagumi keindahan bawah lautnya. Sekali menyelam di Pulau Maratua, kalian akan ketagihan. Di bawah lautnya, saya bertemu dengan ratusan jenis ikan laut dan terumbu karang yang menggoda. Tidak hanya itu, saya juga dapat bertemu barakuda dan penyu hijau. Ditambah dengan air laut yang sangat jernih hingga saya lupa daratan saat menyelam di Pulau Maratua.

maratua 1
Pantainya pun akan menjadi tempat bersantai yang spesial. Lautan yang biru dan sunset yang menggoda, akan menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan. Pulau Maratua memiliki kekayaan alam yang memesona. Pulau ini pun masih sangat bersih dan alami. Dengan 21 titik menyelam, menjadikan Pulau maratua sebagai keindahan karya Tuhan di Kepulauan Derawan.

Pulau Kakaban

Pulau Kakaban merupakan pulau atol yang memiliki laguna berair payau di dalamnya, Kakaban tergolong langka. Sebab, di dunia ini diketahui hanya ada dua yang memiliki kondisi serupa, yaitu Kakaban dan Pulau Palau, di Mikronesia, berjarak 1.000 kilometer dari Filipina. Bagi Anda penyuka wisata bahari, kawasan seluas 774,2 hektar ini memiliki populasi dan keragaman ubur-ubur terbanyak di dunia, yaitu empat spesies unik ubur-ubur yang tidak menyengat.
jelly fish
Pulau ini dikelilingi tebing tinggi, sebelah barat luar tebing terhampar dataran rendah selebar 50 meter yang terdiri dari batu karang. Di kaki tebing terdapat tangga kayu yang menanjak kemudian menurun berjarak 120 meter, menuntun Anda ke tepi danau di balik bukit. Tangga ini terbuat dari kayu meranti dan di kiri kanan tangga tampak rerimbunan pohon bakau diselingi pohon tropis lain yang menjulang tinggi membentuk hutan mangrove, seperti tanjang (Bruguiera), apiapi (Avicennia), dan pidada (Sonneratia).

Pulau Kakaban berbentuk angka “9”, dimana di sebelah utara terdapat atol atau batu karang berbentuk cincin dan di dalamnya terbentuk laguna yang dinamai penduduk setempat Danau Kakaban.

jelly fish 2

Danau Kakaban berisi air payau yang dihuni beragam biota laut yang mengalami evolusi selama terkurung di dalamnya, hingga memiliki sifat dan tampilan fisik yang berbeda dengan spesies sejenisnya yang berada di laut. Salah satu di antaranya ubur-ubur berbadan bening layaknya piring kaca (Aurelia aurita) dan beberapa jenis lainnya yang tampak jauh lebih mungil seukuran ujung jari telunjuk (Tripedalia cystophora).

Sedangkan yang sekepalan tangan, ibarat bola lampu pijar berwarna biru kecoklatan (Martigias papua) jumlahnya lebih dominan di antara lainnya. Bersama ketiga jenis ubur itu, terdapat juga spesies ubur-ubur Cassiopeia ornata yang menjadi ciri khas Pulau Kakaban.
jelly fish 3
Yang membedakan spesies ini dengan ubur-ubur di laut lepas adalah hilangnya kemampuan menyengat. Sedangkan kebiasaan unik Cassiopeia adalah berenang secara terbalik. Dengan menghadapkan “kaki” atau tentakel ke atas.

Dunia penyelaman telah mengenal beberapa titik penyelaman disekitar Pulau Kakaban, yaitu Barracuda Point, The Drift, Cabbage Patch, The Wall, Blue Light Cave, The Plateau, Rainbow Run, Diver’s Delight dan The North Face. Variasi dari berbagai tipe lokasi penyelaman ini sangat menarik bagi para penyelam yang berpengalaman. Medan yang sulit, berbahaya dan tidak adanya tempat berlabuh di Pulau Kakaban menjadikan lokasi selam ini penuh tantangan.

Pulau Sangalaki

Pulau Sangalaki merupakan salah satu pulau yang terletak di Kalimantan Timur. Di pulau tersebut terdapat penangkaran penyu alami dan pari jenis manta yang dapat kita jumpai di laut sekitar pulau.

sea turtle

Biasanya kapal motor berhenti di dermaga,tapi ini justru berhenti di tengah-tengah laut dangkal, kapal motor tidak dapat bersandar di dermaga karena memang tidak ada dermaga untuk kapal di Pulau Sangalaki ini. Begitu alaminya pesona pulau ini. Sejauh mata memandang, perairan jernih tampak terhampar di depan mata. Sambil mengangkat tas dan barang bawaan kami di atas kepala, kami berjalan menerobos air laut setinggi pinggang kami. Begitu menantang dan seru rasanya ketika kita semua berjalan sekitar 200 meter di tengah perairan dangkal yang begitu jernih.

PenyuSebagian penyu-penyu yang telah keluar dipindahkan ke ember kecil yang sudah siap untuk kami lepaskan ke hamparan pasir luas. Dengan begitu semangatnya kami mulai memegang dan berfoto-foto bersama para bayi penyu yang mengagumkan tersebut. Di tengah isu pemusnahan penyu secara ilegal dan perampasan telur penyu yang dijual bebas, terasa begitu bahagia ketika kami masing-masing memegang satu penyu kecil tersebut dan melepaskan di pinggir pantai. Penyu-penyu cilik tersebut secara serempak langsung merayap pertama kalinya menuju laut bebas. Lambat laun satu per satu sudah tiba di sisi pinggir pantai dan memasuki perairan terbuka.
Nah, sekarang tidak ada alasan untuk tidak ingin menjelajah Indonesia kan? Yuk, ke Derawan.

Savana di Kepulauan Komodo

komodo
KOMODO, mungkin ketika mendengar nama hewan ini terdengar mengerikan untuk sebagian orang atau malah ada yang belum tahu. Komodo merupakan hewan yang memiliki banyak kelebihan yang mungkin banyak kita belum mengetahui seperti kelebihannya dapat berlari 18 km/jam dan bisa melihat dalam jarak 300 meter, bukan hanya itu indra penciumannya juga sangat tajam, dari kejauhan 5km dia bisa mencium mangsanya. Karena keunikannya pula predator ini dipilih oleh UNESCO sebagai salah satu World Heritage Site. Itu pun yang menjadi alasan mengapa Komodo masuk kedalam urutan tempat wisata yang wajib saya kunjungi,, :pKomodo secara alami hanya ditemui di Indonesia, di pulau Komodo dan Rinca, Nusa Tenggara Timur. Taman Nasional Komodo sendiri terdiri dari tiga pulau besar yaitu Pulau Komodo (Loh Liang), Pulau Rinca (Loh Buaya) dan Pulau Padar serta beberapa pulau kecil lainnya.

Pulau Komodo

Sebenarnya daya tarik Taman Nasional Komodo tidak semata-mata oleh kehadiran Komodo belaka. Taman Nasional Komodo ini memiliki panorama savana dan pemandangan bawah laut merupakan daya tarik pendukung yang potensial. Wisata bahari misalnya, memancing, snorkeling, diving, cano, bersampan. Sedangkan di daratan, potensi wisata alam yang bisa dilakukan adalah pengamatan satwa, hiking, dan camping. Mengunjungi Taman Nasional Komodo dan menikmati pemandangan alam yang sangat menawan merupakan pengalaman yang tidak terlupakan oleh saya. Disana kita dapat menjumpai flora dan fauna yang ada di Pulau Komodo ini. Pada saat menelusuri jalan di pulau ini,saya perhatikan disini banyak sekali pohon asam, pohon lontar dan bunga anggrek.

Perjalanan saya kali ini akan dimulai pada Pulau Komodo atau sering disebut dengan Loh Liang oleh masyarakat sekitar. Begitu sampai di Pulau Komodo saya dan teman-teman Indonesia Travller sudah disambut dengan kehadiran komodo di sisi dermaga Pulau Komodo. Tidak perlu takut, karena para ranger (petugas taman nasional) pun bersiap menemani kita yang baru singgah, mulai dari pengenalan Pulau Komodo sendiri hingga pengarahan sebelum menjelajah Pulau Komodo ini. Untuk menjelajah pulau kita dapat melakukan trekking, ada tiga jenis trekking yang tersedia, trek pendek memakan waktu setengah jam dengan jarak 1 km, untuk trek medium kurang lebih 1,5 jam dengan jarak 3 km dan trek yang panjang dengan waktu tempuh 2,5 jam dengan jarak 4,5 km. Tujuan dari trekking ini adalah agar kita dapat melihat habitat komodo itu sendiri.

Sepanjang perjalanan menjelajah pulau ini kita sesekali akan bertemu dengan komodo, terlihat mereka tertidur tetapi jangan salah begitulah cara mereka mengintai mangsanya. Selama perjalanan ranger pun berbagi cerita dan informasi seputar komodo dan pulau komodo. Dulunya komodo di pulau ini diberi makan (feeding) oleh pemerintah, namun dirasa cara ini kurang baik bagi komodo itu sendiri karena komodonya menjadi malas dan hilang insting berburunya. Akhirnya komodo ini dibiarkan mencari makanan dengan berburu di alam bebas.

Pulau Rinca

Seterincalah Pulau Komodo saya pun ingin singgah ke Pulau Rinca yang masih masih dalam Kepulauan Komodo. Nah, kalau Pulau Komodo disebut dengan Loh Liang maka Pulau Rinca disebut dengan Loh Buaya. Populasi komodo di Pulau ini sekitar 1.300 ekor komodo, populasi disini jauh lebih banyak daripada populasi di Pulau Komodo sendiri. Predator ini sangat menyukai hidup di padang rumput kering terbuka, savana dan hutan tropis pada ketinggian rendah.

Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup.

Insting komodo untuk berburu mangsa di pulau ini jauh lebih kuat untuk itu mengapa komodo di pulau rinca jauh lebih liar dibandingkan komodo di pulau komodo.

Oh iya, sebagai informasi bagi para wanita yang ingin berkunjung kesini dapat dipastikan dulu kalau kita tidak dalam sedang haid. Karena kalau di Rinca ini, bagi wanita yang sedang haid benar-benar tidak boleh mengikuti trekking dan harus melapor ke ranger untuk menunggu di pos penjagaan. Ini berbeda dengan di Pulau Komodo dimana wanita yang sedang haid masih dapat mengikuti trekking hal ini karena Komodo di Rinca penciumannya jauh lebih tajam dan lebih liar.

Nah, ada yang seru nih disini untuk trekking agak berbeda di pulau ini dengan trek di pulau komodo, di Rinca kita akan menelusuri ilalang, lumpur dan jalan yang sedikit menanjak. Tetapi semua itu terbayarkan setelah saya sampai ke puncak savana di Rinca,sejauh mata memandang hanyalah hamparan hijau pemandangan savana yang sangat indah dan birunya lautan.

Ayooo,, selain kalian harus Vote Komodo sebagai 7 Wonder of Nature, kalian harus jelajahi juga yah 🙂

Surga keindahan di puncak Gili Laba

 Bila mendengar Gili pasti kita akan langsung teringat dengan Gili Trawangan, Gili Air, Gili Kalong dan Gili lainnya. Pernah kah kalian mendengar keeksotisan puncak Gili Laba? Mungkin banyak yang tidak tahu Gili Laba. Namun, pulau ini jangan sampai terlewati bahkan pulau ini menjadi catatan wajib dikunjungi bila kita sudah menginjakkan kaki di timur Indonesia.

Gili Laba terletak di Sumbawa Timur dimana termasuk salah satu gugusan Pulau Komodo. Pada saat saya ke pulau ini, pertama kali kapal mendarat saya hanya menganggap sebagai bukit dengan hamparan hijaunya savana yang indah, ternyata di balik bukit kita bisa melihat pemandangan yang menakjubkan dari puncak Gili Laba ini.

Dari puncaknya kita bisa melihat keindahan laut yang luar biasa. Kita dapat menikmati birunya laut yang sangat indah. Pulau ini, memiliki pemandangan yang sangat eksotik khas tropical.

Untuk melihat keindahan Gili Laba kita harus mendaki bukit terlebih dulu. Sebaiknya menyiapkan stamina yang cukup karena perjalannya akan cukup melelahkan, dimana kita harus melalui trekking yang cukup berat dengan kemiringan tanah 70 derajat. Banyak traveler yang tidak mampu menuju puncak Gili Laba, ini merupakan tantangan menarik yang patut dicoba.

 Dan saya berhasil mencapai puncak Gili Laba dengan nafas terengah-engah dan sering kali terperosok dengan curam yang cukup menantang, namun itu semua terbayarkan ketika di puncak Gili Laba saya benar-benar menyaksikan keindahan alam Nusantara yang menakjubkan.

 

Merica Hitam di Barat Indonesia

Bila kita berbicara keindahan bawah laut biasanya langsung terucap tempat – tempat di timur Indonesia, siapa sangka barat Indonesia juga memiliki banyak keindahan bawah lautnya. Sebut saja Sabang, Pulau Weh di Aceh yang tidak pernah saya duga memiliki aneka keindahan bawah laut yang cukup unik. Mengapa saya katakan unik, karena Sabang memiliki Underwater Vulcano, Wreckship, Rubiah Sea Garden, The Canyon, Bate Tokong, Arus Balee, Anoi Itam dan masih banyak lagi.
Setibanya di Pulau Weh saya langsung bermalam di Sumur Tiga yang konon penginapan di pantai ini memiliki pemandangan yang sangat indah, dan saya membuktikannya. Pantai yang memiliki pasir putih yang sangat halus ini, kita dapat menikmati laut dengan suasana yang tenang dan nyaman, kita pun dapat bersnorkeling di sekitar pantai. Pemandangan saat sunrise sangat cantik di Pantai Sumur Tiga, ini apalagi ditemani segelas es kopi Aceh yang selalu membuat saya ketagihan. Love it.
Liburan kali ini yang di sponsori oleh “Happy Holiday Trans 7” ini kita awali dengan Pantai Anoi Itam, dari namanya saja sudah dapat ditebak pasti pasir hitam. Yup, pasirnya benar-benar sangat hitam dan Pantai Anoi Itam ini adalah satu-satunya pantai pasir hitam di Aceh. Yang membuat beda Pantai Anoi Itam dengan pantai pasir hitam lainnya adalah di pasir di pantai ini mengandung nikel yang beratnya 3x lipat dari pasir hitam lainnya, kalau kita rasakan pasirnya memang lebih besar seolah kita melihat butiran biji merica hitam, unik bukan 😉
Sabang 1
Tak jauh dari Pantai Anoi Itam ada sebuah benteng peninggalan Jepang, dan untuk menuju kesana cukup dengan jalan kaki sekitar 5 menit. Yang saya sayangkan dari benteng ini adalah kurang terawatnya peninggalan ini, sayang sekali padahal apabila dirawat dengan baik benteng ini dapat menjadi wisata budaya yang kaya akan keindahan. Takjub! Hanya itu kata yang dapat menggambarkan keindahan dari atas benteng ini, saya dapat melihat luasnya samudra dan indahnya Pantai Anoi Itam tampak dari atas dengan lautan berwarna tuqouise. Wow! Bener-benar indah! Dan disini kita juga dapat diving loh, kelebihannya disini adalah hard coralnya. Tetapi saran saya hati-hati bila berenang dipantai ini, kenapa? Karena banyak sekali terumbu karang yang tajam dimana-mana dan ombak disini juga cukup kuat. Karena ombak yang kuat ini membuat saya menabrak karang-karang dan menyisakan luka-luka yang cukup parah.
Dari Pantai Anoi Itam kita menuju ke Air Terjun Pria Laout, untuk menuju ke air terjun Pria Laout kita harus menelusiri sawah, hutan dan sungai kecil dengan bebatuan yang cukup besar. Saya bisa katakan hutan yang dilalui ini cukup sexy, bila kita melongok keatas pepohonan kita bisa melihat cahaya yang masuk dari celah-celahnya. Pada saat kita menuju Pria Laout kita akan melewati Danau Anaek Laout, katanya sih danau anaek laut terhubung dengan laut yang hanya dipisahkan oleh bukit.
Pantai di Sabang sebenarnya lebih banyak dengan pantai pasir putihnya seperti Pantai Sumur Tiga, Pantai Gapang, Pantai Iboih dan Pantai Kasih. Dari semua pantai itu yang paling sering saya dengar adalah Pantai Iboih dan pada pagi hari saya kesana, saya membuktikannya, ternyata benar-benar indah! Tepat diseberang pantai ini ada sebuah Pulau yang tak kalah indahnya yaitu Pulau Rubiah. Pantai Iboih dan Pulau Rubiah menjadi sasaran utama para wisatawan, bagaimana tidak disana kita bisa melakukan berbagai aktifitas yang seru banget.
Sesampai di Iboih saya tak ingin melewati untuk berfoto dengan menikmati beningnya air pantai yang berwarna biru kehijauan, ahh suka!! Setelahnya langsung saja saya dan teman-teman meluncur menyebrang menggunakan perahu untuk snorkling dan diving. Kali ini saya dan teman saya memilih snorkeling di Bate Tokong dan 2 teman saya lainnya diving di spot yang sama pula. Sebagai informasi, spot ini benar-benar memiliki arus yang kuat sekali, snorkling aja sudah berasa lelah luar biasa. Walaupun Bate Tokong memiliki arus yang kuat tapi hanya cukup dengan snorkling saya bisa mendapati banyak sekali schooling fish, wowww ada yang berwarna biru, kuning dan hitam (saya gak tau namanya ikan apa) banyak sekali. Dan teman saya pun dapat melihat unicorn fish. Setelah berapa lama bersnorkeling ternyata disini banyaknya adalah soft coral dan begitu pun seperti yang dikatakan oleh teman saya pada saat diving.
Sabang 2

Setelah lelah melawan arus di Bate Tokong kita langsung diving dengan spot wreck ship. Pada saat pertama kali nyebur yang saya sayangkan adalah laut di spot ini tidak terjaga kebersihannya, lumayan banyak sampah dan miyak tergenang di atas air. Eh tapi ini tidak melunturkan semangat saya untuk diving di wreck ship loh. Dengan kedalaman sekitar 10 – 12 meter ini kita akan menemukan kapal kayu yang sudah 30 tahun lalu, disini kita dapat jumpai clown fish, timun laut, ikan terompet dan ikan kecil lainnya dengan warna warni yang menarik mata. Sekitar 45 menit kami berada dibawah laut akhirnya kami putuskan untuk pindah dive spot
Sabang 4
Kali ini kita milih spot yang jarang sekali dijumpai ketika diving yaitu underwater volcano. Pada saat kita masih dipermukaan air saja kita bisa melihat gelembung-gelembung yang disertai dengan bau belerang yang membuat saya tak sabar ingin terjun langsung kebawah laut. Pengalaman yang menyenangkan ketika menyelam dan melalui gelembung-gelembu
ng air dari permukaan bawah laut itu kita akan merasakan perpaduan hangatnya air dari gelembung tersebut dan dinginnya air laut disertai sesekali ada ikan-ikan kecil mengelilingi gelembung-gelembung itu. Sebagai informasi underwater volcano biasanya ditemukan di kedalaman 20 meter lebih tetapi underwater volcano disini cukup dengan kedalaman 10 meter kita sudah menemukannya dan kalian harus coba yah.
Sabang 3
 
 

Pesona sunset di Labuan Bajo

Pelabuhan Labuan Bajo

Pelabuhan Labuan Bajo

Labuan Bajo mungkin masih cukup asing terdengar di telinga kita, tetapi pelabuhan yang terletak di propinsi Nusa Tenggara Timur ini tercatat sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang memiliki pesona keindahan alam yang mengagumkan. Buktinya Labuan Bajo juga terkenal sebagai salah satu tempat favorit bagi para penyelam (diver) untuk melihat langsung dari dekat berbagai koleksi terumbu karang unik nan cantik yang ada di alam bawah lautnya. Beberapa spot di Labuan Bajo juga menawarkan objek untuk snorkeling demi melihat beberapa hewan laut yang jarang kita temui di tempat lain.
Labuan Bajo merupakan sebuah pelabuhan kecil yang cantik di ujung paling barat pulau Flores dan juga merupakan pintu masuk ke Komodo Natinal Park bila menggunakan pesawat.
Keindahan Labuan Bajo lainnya yaitu sunset di pelabuhan ini. Bila kita menikmati sunset di Labuan Bajo maka kita akan disuguhkan pemandangan spektakuler, ketika pulau-pulau kecil yang menghadap ke siluet pelabuhan secara dramatis menciptakan sebuah pemandangan yang dapat membuat mata terpana akan keindahannya.
Tak lengkap bila menikmati keindahan sunset yang indah di Labuan Bajo tanpa ditemani dengan segelas Arak Jingkrak, minuman khas Flores ini menambah kenikmatan tersendiri bila kesegarannya dinikmati bersamaan dengan menikmati sunset di sore hari.
Labuan Bajo menjadi salah satu sunset terindah yang masuk dalam list saya, bahkan belakangan ini Labuan Bajo pun sudah dipromosikan melalui iklan dengan nyanyian Kolam Susu yang menggunakan tagline, “Ayo ke Labuan Bajo!”.

Surga keindahan di puncak Gili Laba

Bila mendengar Gili pasti kita akan langsung teringat dengan Gili Trawangan, Gili Air, Gili Kalong dan Gili lainnya. Pernah kah kalian mendengar keeksotisan puncak Gili Laba? Mungkin banyak yang tidak tahu Gili Laba. Namun, pulau ini jangan sampai terlewati bahkan pulau ini menjadi catatan wajib dikunjungi bila kita sudah menginjakkan kaki di timur Indonesia.

Gili Laba terletak di Sumbawa Timur dimana termasuk salah satu gugusan Pulau Komodo. Pada saat saya ke pulau ini, pertama kali kapal mendarat saya hanya menganggap sebagai bukit dengan hamparan hijaunya savana yang indah, ternyata di balik bukit kita bisa melihat pemandangan yang menakjubkan dari puncak Gili Laba ini.
Dari puncaknya kita bisa melihat keindahan laut yang luar biasa. Kita dapat menikmati birunya laut yang sangat indah. Pulau ini, memiliki pemandangan yang sangat eksotik khas tropical.
Untuk melihat keindahan Gili Laba kita harus mendaki bukit terlebih dulu. Sebaiknya menyiapkan stamina yang cukup karena perjalannya akan cukup melelahkan, dimana kita harus melalui trekking yang cukup berat dengan kemiringan tanah 70 derajat. Banyak traveler yang tidak mampu menuju puncak Gili Laba, ini merupakan tantangan menarik yang patut dicoba.
Dan saya berhasil mencapai puncak Gili Laba dengan nafas terengah-engah dan sering kali terperosok dengan curam yang cukup menantang, namun itu semua terbayarkan ketika di puncak Gili Laba saya benar-benar menyaksikan keindahan alam Nusantara yang menakjubkan.

LANGKAWI, Keindahan dalam gugusan pulau

Langkawi, masih terasa asing ketika mendengar nama ini. Langkawi sebenarnya merupakan suatu gugusan pulau di bagian Kedah, Malaysia, dimana Pulau Langkawi merupakan pulau yang terbesar di kepulauan ini. Di seberang Pulau Langkawi ialah Pulau Sumatra di Indonesia. Sejarahnya pulau ini tercipta 500 juta tahun, yaitu pada zaman Kambria. Pada zaman itu, sebuah benua besar bernama Gondwana yang terletak di Kutub Selatan berpecah menjadi cebisan tanah yang kecil yang kini dapat dijumpai di 4 tempat di bumi, yaitu Afrika, Australia, India, dan Langkawi.

Pulau Langkawi memiliki banyak sekali gugusan pulau – pulau yang indah. Gugusan pulau yang paling dikenal adalah Pulau Dayang Bunting, Pulau Singa Besar, Pulau timun, Pulau Tuba dan Pulau Langun. Untuk sampai ke Pulau Langkawi ada beberapa alternative bisa dari kuala lumpur melalui jalur darat sekitar 5 jam ke Kuala Perlis lalu dilanjutkan dengan kapal sekitar 1 jam menuju Pulau Langkawi. Selain jalur darat, dari Kuala Lumpur bisa juga menggunakan pesawat langsung ke Pulau Langkawi. Tapi kali ini saya ingin bertualang dengan mengambil jalur dari Penang. Dari Jakarta singgah dan bermalam di Penang terlebih dahulu untuk mempersiapkan segala sesuatunya menuju Langkawi. Dari Airport Penang langsung menuju homestay didaerah George Town, Komtar. Untuk menuju Komtar harus naik bus 405E dari Airport dengan tarifnya RM2,7, saran saya sediakan uang pas untuk naik bus di Penang karena apabila duit kalian lebih tidak dapat dikembalikan. Dengan kata lain tidak ada kembalian.

Selama perjalanan di bus pandangan saya tak lepas kanan kiri kanan kiri, bangunannya seperti kota tua dan dekat dengan pantai. Sampainya di Komtar dengan bermodalkan peta, saya dan kedua teman berjalan mencari homestay yang sebelumnya sudah kami booking melalui via telepon. Hutton Lodge itulah nama homestay kami dan ternyata di daerah ini banyak sekali homestay yang diperuntukkan bagi turis-turis backpacker. Kamar yang kami sewa adalah dormitory dengan tarif RM45 kamar ini tersedia 4 tempat tidur dimana para turis bisa bergabung menjadi satu walaupun tak saling kenal, wah untungnya satu kamar itu hanya ada saya dan kedua teman saya saja :p

Setelah menaruh barang di homestay saya langsung menuju jetty untuk membeli tiket penyebrangan ke Langkawi esok hari. Di jetty ini banyak sekali travel yang menawarkan berbagai macam wisata dan saya pun singgah ke Tourism Malaysia, disana saya mendapatkan banyak sekali informasi mengenai Penang dan Langkawi, saking bagusnya pelayanan dari Tourism Malaysia ini mereka membantu telepon ke penginapan-penginapan di Langkawi untuk kami dan semua bantuan itu gratis. Menurut saya Pariwisata Indonesia perlu mencontoh hal ini agar para turis yang datang ke Indonesia mendapatkan layanan yang memuaskan. Tak salah kan belajar dari kelebihan Negara lain.

Keesok paginya saya sudah berada di Jetty lagi untuk menyeberang ke Langkawi dengan speedboat yang memakan waktu 3 jam. Tarif speedboat ini RM80, apabila kita membeli tiket sekaligus pulang pergi tarifnya RM115. Dalam satu jadwal menuju ke Langkawi hanya 2 kali yaitu pagi hari pukul 9.15 dan 16.00 waktu bagian Penang (lebih cepat 1 jam dari waktu jakarta).

Sepanjang perjalanan yang dapat kita lihat hanya lautan lepas. Sebelum sampai ke Langkawi, speedboat ini berhenti terlebih dahulu di Pulau Payar. Banyak juga para turis yang datang ke Pulau Payar ini yang terkenal dengan Marine Park dan pantainya dengan pasir berlapis emas, wow! Pasti indah, dan sesampai di dermaga saya melihat pantainya yang benar-benar indah, airnya jernih sehingga dari kejauhan diatasnya saya bisa melihat banyak sekali ikan di pantai itu.

Dari Pulau Payar masih membutuhkan 1 jam untuk sampai ke Pulau Langkawi dan setibanya saya di Langkawi saya sangat merasakan kehangat orang – orang disini. Di Pulau Langkawi tidak ada transportasi umum jadi bagi turis hanya dapat menyewa mobil atau motor. Saya pun menyewa mobil dengan harga RM80 per hari. Selagi menyewa mobil saya pun ditawari berbagai macam paket wisata di Langkawi, mulai dari paket hopping island, paket mangrove, hingga paket marine park. Akhirnya saya memutuskan memilih paket hopping island karena selain harga terjangkau juga cukup untuk bisa berpetualang.

Setelah selesai dengan urusan persiapan untuk esok hari akhirnya saya pun singgah ke Citin Hotel yang terletak di Kuah, kota besar di Langkawi. Walaupun di kota besar, Hotel Citin juga termasuk pilihan hotel yang tidak terlalu mahal, nyaman dan strategis, tarifnya RM90 dengan twin bed. Saya menikmati kota Kuah, pusat kota yang tidak bising dan tertata rapih.

Sore pun tiba, saya sudah mengelilingi kota Kuah hingga sampai di pantai cenang, sayangnya pantai pasir putih ini seperti pantai kuta bali, ramai oleh para turis. Saya pun tak berlama – lama disana, dan segera menuju Taman Awan Teluk Yu Langkawi. Sebuah pantai yang terhampar sepanjang jalan dengan pasir hitamnya ini memiliki pasir yang sangat kasar dan terdapat banyak sekali bebatuan yang besar – besar.

Yang tak banyak diketahui oleh backpacker adalah menikmati sunset di Tanjung Rhu, disini sunset itu sekitar pukul 19.30. Dari pantai Yu Langkawi ke Tanjung Rhu cukup dekat dan jalan menuju kesana sepi sekali, disebelah kiri kita bisa melihat resort bintang 5 dan disebelah kanannya ada hutan mangrove. Sampailah saya di Tanjung Rhu dan saya sangat takjub. Bagaimana tidak, pantai dengan pasir putih yang sangat halus ini kita bisa berjalan hingga gugusan karang besar ditengah laut, karena pantai ini pasirnya membelah hingga ke tengah laut dan bila sunset pasir-pasir ini akan tertutup air laut dengan perlahan lahan,, cantik!!

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya diatas bahwa setibanya di Langkawi saya memutuskan untuk mengambil paket Hopping Island yang terdiri dari Pulau Dayang Bunting, Pulau Singa Besar dan Pulau Beras Basah. Menuju kesana kita harus menelusuri laut dengan perahu motor kecil yang cukup untuk 15 orang, harga untuk paket Hopping Island ini adalah RM30. Sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pulau – pulau karang yang indahhhh sekali,,hmmm saya sangat menikmatinya.

Pulau pertama yang kami singgahi adalah Pulau dayang Bunting, dari samping pulau kami sempat berhenti sejenak untuk melihat bentuk pulau dari samping dimana terlihat kepala, perut dan kaki seperti seorang raksasa yang sedang tidur seperti legenda pulau itu. Sesampainya di dermaga Pulau Dayang Bunting kami harus jalan di jembatan dimana banyak sekali monyet – monyet liar disekitarnya, awasss jangan sampai ada barang yang menarik perhatian monyet-monyet itu, mereka akan mengejarmu!. Wisata di Pulau Dayang Bunting kita bisa melihat Tasik Dayang Bunting (Danau). Untuk menuju Tasik kita akan berjalan kurang lebih 10 menit dengan jalan bertangga. Di Tasik Dayang Bunting ini penuh cerita dongeng bahkan hingga saat ini masih dipercayai magisnya yaitu bagi perempuan yang meminum air danau ini maka kesuburannya akan meningkat. Disana kita dapat menikmati keliling danau dengan perahu yang dikayuh dengan kaki dan dapat juga kita merendam kaki dan ikan-ikan akan menghampiri kita, tapi kok ikannya ikan lele yah? Takut dipatil :p

Pulau selanjutnya yang saya singgahi adalah Pulau Singa Besar, dimana pulau ini tak berpenghuni dan hanya burung elang yang banyak sekali sebagai penghuninya. Saya baru pertama kali melihat elang yang banyak dan besar. Dari Pulau Singa Besar, pulau yang terakhir akan disinggahi adalah Pulau Beras Basah. Pantainya bersih dan hanya dapat bermain pasir dan menikmati pemandangan pantai saja, tetapi ada juga loh yang snorkeling dan main banana boat. Saran dari saya kalau mau snorkeling ambil spot lain karena visibility disini kurang.

Namun dalam liburan saya kali ini tak hanya mengunjungi pantai, saya pun ingin mengetahui pelestarian di Langkawi ini dan saya pun singgah di Taman Buaya Langkawi, rasanya saya ingin menunggu di mobil saja karena saya harus melewati jembatan kayu yang cukup kokoh dimana dibawah jembatan ini adalah kolam buaya, bukan hanya jumlahnya yang banyak tetapi buaya disini memiliki ukuran yang besar-besar sekali. Baru kali ini saya melihat buaya yang sangat besar seperti di film. Eh ada yang menarik perhatian saya di tempat ini, ada pajangan ikan dan buaya seperti lambang kota Surabaya, untung hanya pajangan mereka saja kalau diperjualkan saya akan protes.

Sekitar 500 meter dari Taman Buaya Langkawi kita dapat menemukan Air terjun Temurun di Hutan Lipur. Dibawah air terjun ini ada seperti kolam yang bisa kita buat berendam dan rasanya segarrr sekali sambil memandang keatas dengan burung burung Elang yang berterbangan.

Liburan di Pulau Langkawi ini akhirnya saya tutup dengan Sky Bridge, tak lengkap kalau tidak menginjakkan kaki di jembatan dengan ketinggian 700 meter dari permukaan laut. Untuk sampai di Sky Bridge ini kita harus naik Cable Car dengan 2 stasiun pemberhentian. Saya Cuma bisa takjub ketika naik Cable Car ini, karena saya bisa melihat Pulau Langkawi beserta gugusannya dari atas.

Nah, tak lengkap rasanya liburan bila tidak membawa oleh-oleh, di daerah pantai Cenang yang mirip Pantai Kuta saya bilang itu terdapat banyak sekali toko cinderamata. Sayangnya yang membuat saya kesal dan sedih adalah cinderamata di Pulau Langkawi ini adalah kebanyakan cinderamata khas Indonesia yang saya temui, seperti miniature angklung, gong, barong, patung batik, bahkan kain batik itu sendiri sebagai cinderamata. Positifnya yang saya ambil dari hal ini adalah ini sebagai pacuan kita untuk mempopulerkan Indonesia dengan keberagamannya sehingga kekayaan budaya kita tetap terjaga.

Eksotis Pink Beach di Timur Indonesia

pink beach

 

Pantai di Indonesia bagian timur memang sangat indah, salah satunya Pantai Merah yang biasa disebut dengan Pink Beach. Pantai berpasir warna pink sendiri hanya ada 7 di dunia loh dan kita tidak perlu jauh-jauh pergi ke Bahama untuk menikmati keindahan pantai dengan pasir berwarna pink ini, karena  di Indonesia pun ada yaitu di Pulau Komodo, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Masyarakat setempat menamainya dengan pantai merah hanya saja wisatawan yang sering berkunjung ke pantai ini menyebutnya Pink Beach. Pink Beach sendiri merupakan salah satu tujuan wisata yang terkenal dikalangan para wisman yang terletak di Taman Nasional Komodo.

Menurut sejarahnya pasir merah di pantai ini terbentuk dari pecahan karang berwarna merah. Tapi banyak yang mengatakan bahwa warna merah atau pink pada karang ini adalah hasil produksi dari hewan mikroskopik semacam amuba bernama Foraminifera. Bila kita mengambil sejumput pasirnya maka terlihat pasir berwarna merah di antara pasir putih.

Keunikan pantai ini bila ombak menyapu pasir dan menariknya, maka warna pasir tersebut berubah menjadi pink tua, sangat indah. Pink Beach juga memiliki keindahan bawah laut yang mempesona dan pemandangan sekelilingnya yang benar-benar membuat kita tercengang. Wahhh memang sangat bagus!!:p

pink beach 1

Ternyata selain warna pasirnya yang unik, Pink Beach juga kaya akan ikan dan terumbu karang. Kurang lebih sekitar seribu jenis ikan, ratusan jenis karang, koral, dan puluhan jenis tanaman sponge hidup di pantai ini. Banyak hard corals dan soft corals yang berwarna-warni dan masih sehat, ditambah lagi banyaknya ikan-ikan hias, seperti clown fish (ikan Nemo), butterfly fish, bat fish dan masih banyak lagi. Karena itulah, pantai ini sangat cocok bagi pecinta laut untuk kegiatan snorkeling dan menyelam.

Dan sebagai informasi, yang perlu diwaspadai pada saat menyelam maupun snorkeling di Pink Beach adalah arus, air laut di sini dikenal memiliki arus yang cukup kuat, yang saya rasakan pada saat snorkeling saja cukup menguras tenaga. Arus kuat ini terjadi akibat adanya pertemuan air laut tropis dari utara dan air laut dari selatan. Makanya, para penyelam harus berhati-hati dan mewaspadai keadaan arus ini.

Temen-temen yang penasaran dan ingin kesana untuk merasakan langsung gimana eksotisnya Pink Beach ini, rutenya cukup mudah kok. Dari Bali kita terbang ke Labuan Bajo lalu menyewa speedboat atau kapal nelayan dari Labuan Bajo menuju Pulau Komodo (Loh Liang). Dari Loh Liang dengan perahu membutuhkan waktu sekitar 30 menit dan apabila melalui jalur darat membutuhkan waktu lebih lama sekitar 4 jam karena bila melalui jalur darat kita harus melewati hutan bakau dan gugusan tebing karang.

Yukk main-main pasir merah, dijamin gak akan terlupakan,, ;p